Sabtu, 07 November 2009

SAHABAT ADALAH ANUGRAH

Sahabat.....
Kalian adalah hadiah terindah karunia Tuhan buat saya. Seperti hadiah, ada yang bungkusnya indah dan ada yang bungkusnya biasa saja. Yang bungkusnya indah mungkin punya wajah cantik dan rupawan, atau kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya biasa saja mungkin punya wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau bahkan mungkin buruk.


Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus mungkin punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berbagi rasa dengannya, ketika menghabiskan waktu berjam-jam dengannya, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintainya dan diapun mencintai kita.


Yang isinya buruk mungkin punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita dapat darinya seringkali sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah dan lain-lain.


Kita terkadang tidak menyukai pribadi seperti ini dan mencoba menghindar dari mereka.Tapi terkadang kita tidak mengerti bahwa itu semua bukanlah pribadi mereka sesungguhnya, tetapi lebih kepada ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta karna dia sebenarnya ingin cinta kita, simpati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka dalam yang memasung jiwanya.


Jangan pernah menyesal atas apa yang terjadi . Sebenarnya hal-hal yang kita alami sedang mengajari kita. Saat seorang teman berdusta pada kita atau tidak menepati janjinya pada kita atau dia tidak menghargai perhatian yang kita berikan. sebenarnya ia telah mengajari kita agar kita tidak berprilaku seperti itu.


Saat teman kita menghapus e-mail yang kita kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura-pura tidak melihatmu. Sebenarnya dia telah mengajarkan kita agar tidak berprasangka buruk dan selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca e-mail yang kita kirim atau mungkin saja dia tidak melihat kita.


Saat kita mencintai seseorang dengan tulus,tapi dia tidak mencintai kita, atau yang kita sayangi tiba-tiba mengirimi kita kartu undangan pernikahannya, sebenarnya dia sedang mengajari kita untuk selalu menerima takdir-NYA.


Bahkan Bila kita hanya diperlukan pada saat teman sedang dalam kesulitan. Sebenarnya dia juga telah mengajari kita untuk menjadi orang yang arif dan bijaksana, kita telah membantunya saat dalam kesulitan.


Kalian adalah hadiah untuk saya, tak peduli apapun bungkusnya, cantik atau tidak, tak peduli apapun isinya, bagus atau tidak. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya sudah disiapkan oleh-Nya untuk kita.


Sahabat, kalian adalah yang terbaik….

Kamis, 05 November 2009

SEKELUMIT TENTANG KAMI......

"PONDOK DONGENG NUSANTARA" adalah pondok kecil di sudut selatan kota Jakarta tempat siapa saja boleh mampir untuk istirahat sejenak setelah menempuh kerutinan yang dijalani setiap hari. Seperti halnya sebuah pondok di ujung desa di tepi hutan yang disambangi para pengelana untuk sejenak beristirahat dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali, demikian pula dengan Pondok Dongeng Nusantara. Ada beberapa ruang yang dapat di singgahi di Pondok dongeng Nusantara, diantaranya :

 

·         'Lorong Masa' – Musium kecil dongeng nusantara.

·         'Serambi Pustaka' – Perpustakaan mini dongeng nusantara.

·         'Dapur Kreatif' – Tempat belajar  mendongeng serta membuat media dongeng dan kegiatan kreatifitas lainnya. Format Kegiatan Dapur Kreatif diisi dengan :

·         Bercerita : mendongeng sebagai inti kegiatan

·         Bermain dan Berperan : memainkan games,  memperagakan dongeng secara bersama dengan media boneka atau yang lainnya.

·         Proses Kreatif : berkreasi  dan berkarya dengan bermacam media

·         'Mimbar dongeng' – Panggung kecil tempat siapa saja dan kapan saja boleh mendongeng.

 

Insya Allah, jika Tuhan Maha Segala mengijinkan kami sedang merintis berdirinya 'Warung Dongeng' – Tempat berleha-leha sambil ngobrol ngalor-ngidul, menularkan ilmu dan berbagi pengalaman sambil menikmati sajian sederhana yang bersahaja ala Pondok Dongeng Nusantara, di warung ini juga akan ada pernak-pernik piranti dongeng yang dapat dibeli dengan harga yang terjangkau..

 

Insya Allah pula Pondok Dongeng Nusantara akan menerbitkan  'Lembar Warta' – Media informasi Pondok Dongeng Nusantata yang disebarkan secara cuma-cuma bagi para pengunjung Pondok Dongeng Nusantara.


THE POWER OF STORY TELLING

Agus D.S

Prinsip-prinsip dalam mendongeng adalah :
1. Jangan dulu mendongeng sebelum belajar mendongeng.' Artinya sebelum mendongeng terlebih dahulu kita belajar untuk memahami apa arti dongeng yang sesungguhnya.
2. Dalam mendongeng sebaiknya kita terlebih dahulu memahami dan menghafalkan isi cerita tersebut.
3. Dalam mendongeng kita diharapkan untuk memperhatikan klasifikasi umur anak.
4. Dalam mendongeng kita sebaiknya mengetahui terlebih dahulu tema yang akan menjadi dongeng pada hari itu.
5. Dalam mendongeng sebaiknya tema yang kita ceritakan berakhir pada saat itu juga (bukan cerita bersambung).
6. Dongeng yang dibawakan hendaknya mengandung makna yang dapat membangun karakter anak agar menjadi lebih baik.

Contoh :
Dongeng tentang seorang ibu yang bekerja keras setiap hari. Suatu ketika sang ibu jatuh sakit, sehingga tidak bisa memasak dan menyediakan makanan untuk keluarganya. Sang anak pun menjadi sadar dan berinisiatif untuk membantu ibunya yang sedang sakit, misalnya membantu menyapu rumah. Dengan demikian dapat menumbuhkan semangat pada diri anak tersebut agar mempunyai kepedulian terhadap sesama dan saling membantu.
Menurut Anti Aarne dan Stiih Thomas, dongeng dikelompokkan dalam 4 golongan sebagai berikut :
1. Dongeng binatang - Dongeng binatang adalah dongeng yang tokohnya binatang peliharaan atau binatang liar.
2. Dongeng biasa - Dongeng biasa adalah dongeng yang tokohnya manusia dan biasanya berisi tentang kisah suka duka yang dialami seseorang. Misalnya dongeng Ande-Ande Lumut, Joko Kendil dan lain-lain.
3. Lelucon atau Anekdot - Merupakan dongeng yang dapat menimbulkan tawa bagi pendengarnya.
4. Dongeng berumus - Merupakan dongeng yang strukturnya terdiri dari pengulangan.

Alasan-Alasan Mengapa Setiap Orang Mau Mendongeng :
1. Karena ingin bisa mendongeng dan belajar mendongeng agar di kemudian hari dapat menjadi pendongeng profesional.
2. Ingin mendapatkan kepuasan dan rasa lega setelah selesai mendongeng, karena imajinasi dan inspirasinya telah tertuang ketika ia mendongeng.
3. Merasa gembira setelah mendongeng karena mendongeng itu seperti menasehati orang lain atau menyampaikan petuah-petuah yang bermakna bagi seseorang.

Alasan Orang Tua Memilih Dongeng Yang Baik :
1. Orang tua yang mempunyai kebiasaan mendongeng kepada anak-anaknya dengan menggunakan buku, telah menjadi contoh yang bagus bagi anaknya.
2. Pengenalan buku kepada anak yang dilakukan sejak usia dini akan berdampak positif bagi anaknya. Dengan demikian anak akan mencintai buku-buku dan ingin membacanya sendiri.

Anak yang mencintai buku akan mendapatkan berbagai keuntungan sebagai berikut :
1. Membuat anak mempunyai kemampuan mebaca dengan baik.
2. Menumbuhkan rasa kebahasaan yang tinggi.
3. Memberi keragaman wawasan yang membuatnya menjadi mudah mempelajari banyak hal.
4. Membuat anak lebih mampu untuk mengatasi krisis kepribadian.
5. Memberikan keragaman perspektif.

Peranan Orang Tua Dalam Perkenbangan Anak
Dalam usaha membantu perkembangan anak, orang tua dapat membimbing anak melakukan sesuatu dengan hal-hal yang ada di dalam rumah, misalnya :
1. Membaca berbagai jenis buku bacaan yang sesuai dengan usia anak.
2. Berkarya kretif dengan bahan-bahan yang ada di rumah.
3. Melukis bebas untuk memberi kesempatan kepada anak menoret-coret pada tempat tertentu secara bebas.
4. Mendongeng dengan bahan dari buku cerita atau tanpa buku cerita.

Manfaat Mendongeng Bagi Anak-Anak
Dalam sebuah buku yang berjudul A Book For Children Literature, Hollowell mengatakan bahwa ada enam segi positif dari sebuah dongeng, antaralain :
1. Dongeng dapat mengembangkan imajinasi dan memberikan pengalaman emosional yang mendalam.
2. Memuaskan kebutuhan ekspresi diri.
3. Menanamkan pendidikan moral tanpa harus menggurui.
4. Menumbuhkan rasa humor yang sehat.
5. Mempersiapkan apresiasi sastra.
6. Memperluas cakrawala khayalan anak.

Kualitas Positif Sebuah Dongeng
1. Apakah dongeng itu memikat dan menghibur?
2. Apakah dongeng itu dapat mengembangkan imajinasi anak?
3. Apakah dongeng itu akan memberi pengalaman emosional yang mendalam pada anak?
4. Apakah dongeng itu menimbulkan rasa humor yang menyeluruh pada anak?
5. Apakah dongeng itu akan memberi pemuasan terhadap kebutuhan ekspresi?
6. Apakah dongeng itu akan menambah informasi yang memperluas cakrawala pandangan anak?
7. Apakah dongeng itu akan memeberi pendidikan moral pada anak?
8. Apakah dongeng itu akan memberikan apresiasi terhadap keindahan?
9. Apakah dongeng itu dapat dicerna dengan mudah?
10. Apakah dongeng itu dapat menambah perkembangan akhlak dan budi pekerti anak?

Kualitas Negatif Sebuah Dongeng
1. Apakah dongeng itu mengandung falsafah, kepercayaan, adat istiadat, norma-norma, pandangan-pandangan primitive yang sudah tidak sesuai lagi, dan bahkan dapat menghambat perkembangan zaman.
2. Apakah dongeng itu mengandung unsur-unsur strategi, kekerasan, kebohongan, fantasi, berbahaya, ingkar janji, kelicikan dalam mencapai tujuan, kemenangan atau meraih kekayaan.

Praktek Mendongeng
1. Tekatkan niat anda untuk mencoba mendongeng
2. Berkonsentrasi dengan mengingat-ingat cerita yang akan anda bawakan. Bagaimana urutan ceritanya, siapa saja tokoh-tokohnya dan bayangkan bagaimana anda akan membawakannya.
3. Persiapkan kejutan-kejutan yang akan anda keluarkan selama mendongeng
4. Bila masih merasa sulit, buatlah kartu catatan singkat untuk mempermudah alur cerita.
5. Setelah anda merasa benar-benar siap, mari kita mulai menyapa anak-anak.

Hal-Hal Yang Diperhatikan Agar Menjadi Pendongeng Yang Baik
1. Pastikan kondisi fisik anada benar-benar dalam keadaan baik sehingga konsentrasinya lebih terarah.
2. Hayatilah sungguh-sungguh cerita yang akan anda bawakan.
3. Sebaiknya membuat ringkasan cerita pada sepotong kertas atau 'kartu cerita'.
4. Penyusunan gambar atau alat peraga disesuaikan dengan alur cerita.
5. Bila anda mampu, cobalah untuk berpuisi, menyanyi atau memainkan alat musik sebagai perlengkapan dongeng atau cerita.
6. Agar dongeng menjadi lebih menarik, cobalah memilih adegan menarik untuk didramatisasikan berulang-ulang.
7. Perhatikan artikulasi dalam pengucapan kata-kata agar terdengar jelas.
8. Usahakan untuk biasa menjaga keserasian jalan cerita sehingga anak-anak akan merasa terikat dengan adegan atau cerita tersebut.
9. Selalu terbuka pada kritik dan saran dari siapapun.
10. Jangan menyimpang dari etika-etika sebagai seorang pendongeng.
11. Bersedia belajar dari pendongeng yang sudah sukses.

Hal-Hal Yang Diperhatikan Saat Mendongeng
1. Pola dan irama berbicara
2. Jarak dengan pendengar perlu diperhatikan
3. Gerak dan sikap tubuh
4. Kontak mata
5. Suara saat berbicara
6. Penampilan

Dongeng Tukang Cukur: “Apakah Tuhan itu ada?”

Seorang pelanggan datang ke tempat tukang cukur untuk merapikan rambut dan mencukur kumisnya.

Si tukang cukur mulai bekerja dan seperti biasa memulai pembicaraan hingga suasananya menghangat. Mereka berbicara berbagai topik pembicaraan hingga sampailah diskusi tentang Tuhan

Si tukang cukur bilang: "Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

"Kenapa anda bilang begitu??" balas si pelanggan

"Begini Pak, coba anda perhatikan di depan sana, di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan padaku, jika Tuhan itu memang ada, adakah yang sakit? Adakah anak-anak terlantar? Adakah kemelaratan?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi".

Si pelanggan tidak merespon, karena fikirnya tidak ada gunanya berdebat bila tidak ada argumen dan bukti yang kuat, hanya akan jadi debat kusir saja. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si pelanggan itu pun pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Di tengah jalan dia melihat seseorang dengan rambut panjang acak-acakan, kotor dan brewok yang tidak terawat. Orang itu terlihat kotor dan jorok.

Si pelanggan segera kembali ke tempat tukang cukur lalu berkata: "Tahukah anda
sebenarnya TUKANG CUKUR ITU TIDAK ADA!!"

Si tukang cukur tidak terima dan balas berkata: "kok anda bisa bilang seperti itu? Saya di sini, tukang cukur, ada!, dan baru saja saya mencukur anda!".

"Tidak!" kata si pelanggan, lalu menambahkan "Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana"

"Ah iya sih, tapi tukang cukur tetap saja ada!" sanggah tukang cukur. "Jika anda melihat orang seperti itu, itu adalah salah mereka sendiri. Kenapa mereka tidak datang ke saya? Tidak minta saya cukur?" jawabnya membela diri.

"Yup!" kata si pelanggan menyetujui. "Itulah poin utamanya. TUHAN ITU ADA! Tetapi apa yang terjadi? Orang-orang tidak mau datang kepada Nya, tidak mau mencari Nya, tidak mau meminta tolong kepada Nya. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini"

Si tukang cukur hanya bisa bengong

Rabu, 04 November 2009

“WARAHAN” SASTRA TUTUR LAMPUNG YANG TERANCAM

Oleh : B Josie Susilo Hardianto

"JIKA dilakukan pada siang hari, hujan rintik-rintik akan turun walau
matahari bersinar dengan terik. Kami menyebutnya hujan panas. Lalu,
jika dilakukan pada malam hari, hujan akan turun. Itulah tandanya,"
tutur Riagus Ria, pemerhati seni tradisional Lampung, tentang
pengaruh magis yang muncul saat seorang pewarah (penutur warahan)
memaparkan kisahnya.

MAGIS, karena untuk mampu mengisahkan cerita yang terdiri atas
puluhan bait itu, seorang pewarah harus melakukan puasa mati raga.

"Melakukan puasa selama 40 hari. Setelah itu masih disambung lagi
dengan puasa empat hari, dan masih dilanjutkan lagi dengan puasa dua
hari dua malam tanpa makan dan minum. Tidak heran jika para pewarah
dulu mampu menghafal kisah Radin Jambat dan mewarahkannya," tutur
Riagus Ria lagi.

Ia sendiri mengalaminya, ketika Syahmin Ahyar Gelar Sutan Unjunan
Paksi, ayahnya, mengisahkan Hikayat Radin Jambat. Kisah itu
menceritakan tentang petualangan Radin Jambat, legenda tua rakyat
Lampung. Dalam tradisi sastra lisan Lampung, kisah Radin Jambat ini
merupakan kisah utama, sebuah masterpiece (adikarya).

Hikayat Radin Jambat berisi tentang kisah-kisah petualangan yang
diwarnai cerita peperangan, percintaan, dan juga humor. "Yang menarik
bagi anak-anak kala itu adalah peperangan saat Radin Jambat terdesak.
Begitu hebatnya pewarah itu bercerita, semua seperti terpukau,
terbelalak mendengar bahwa dengan pedangnya Radin Jambat menebas
pepohonan, sehingga menyebabkan burung garuda mengeluh karena tak ada
lagi tempat untuk hinggap," ungkap Riagus.

Kisah itu awalnya adalah petualangan Radin Jambat dalam mencari
jodoh. Namun, bagi Imas Komariah, seorang seniman dan pemerhati seni
di Lampung, kisah pencarian cinta Radin merupakan sebuah kisah
reflektif dan pergulatan batin manusia dalam mencari keilahian. "Itu
adalah kisah tentang manusia yang hendak bertemu dengan Yang Ilahi.
Disebutkan dalam kisah itu tentang dewa-dewa," tuturnya.

Bagi anak-anak masa itu, menurut Riagus Ria, kisah lama begitu
menarik perhatian, apalagi jika si pewarah mempunyai kekuatan magis
yang seolah menyihir lewat lantunan kisah-kisah yang dipaparkan.
Warahan yang dalam khazanah sastra dapat dikategorikan sebagai
dongeng ini, memang dipaparkan dengan cara dilagukan.

"Dulu, pada malam hari, saat hendak tidur, bapak saya selalu mewarah.
Kami, anak-anak ada di sekelilingnya sambil memijatnya. Kisah itu
berhenti setelah bapak tertidur, dan kami pun juga tertidur. Kami
meyakini itu juga akibat pengaruh magis pengisahan. Lalu esok
malamnya diteruskan lagi. Sebelumnya bapak bertanya, kisah kemarin
sampai apa, lalu diteruskan lagi. Kisah Radin Jambat sendiri biasanya
selesai dikisahkan setelah empat hari empat malam," tutur Riagus.

Tak heran sebab setelah dituliskan kembali oleh Prof Hilman
Hadikusuma, seorang ahli hukum adat Lampung, kisah Hikayat Radin
Jambat terdiri atas 42 bait. "Hanya sayang bait ke 21 sedikit
terpenggal," ungkap Riagus.

Selain Hikayat Radin Jambat, ada juga kisah lain seperti Betung
Sengawan yang berkisah tentang penobatan gelar. Lalu ada juga kisah
yang berbau fiktif, berbaur dengan kisah-kisah nonfiksi yang muncul
dalam warahan bertema sejarah, seperti cerita tentang asal-usul
Lampung yang berjudul Ompung Silamponga.

KATA warahan sendiri berasal dari kata wakhea yang dalam bahasa
Lampung berarti cerita, dan akhah yang berarti maksud. Imas Komariah
mengkaji, istilah warahan memiliki beberapa versi, yaitu wawarahan,
warahan, dan aruhan atau ruhan. Wawarahan, menurut dia, lazim
digunakan oleh masyarakat Lampung Pesisir (Sai Batin), sedangkan
masyarakat Lampung Pepadun biasa menggunakan istilah warahan atau
ruhan atau aruhan.

Kisah tutur itu biasanya disampaikan dengan cara dilantunkan dalam
bahasa Lampung. Berbeda dari sastra lisan Lampung lainnya seperti
dadi, pisaan, canggot, bubiti, dan sagata, pesan yang hendak
disampaikan dalam warahan dikemas dalam cerita yang memiliki plot
dengan tahapan-tahapan yang jelas.

Imas menyebutkan, berbeda dari sastra lisan yang umumnya ditampilkan
dalam upacara adat saja. "Warahan dapat ditampilkan dalam setiap
kesempatan, karena memang awalnya adalah dongeng dari orang tua
kepada anak atau cucunya. Lingkupnya lebih terbuka dibandingkan
dengan bentuk sastra lisan lain yang lebih terikat pada peristiwa
atau perhelatan adat saja," paparnya.

Dikatakan, dalam kajian sejarah, ada kemungkinan warahan berkembang
seiring dengan masuknya pengaruh Kesultanan Banten dan Islam di
Lampung, terutama untuk masyarakat adat pesisir. Tetapi, menurut
Riagus, warahan sudah mulai berkembang sebelum Banten datang.

Bahkan, menurut Riagus, warahan telah berkembang dalam komunitas
masyarakat Lampung jauh sebelum masuknya pengaruh Islam di Lampung.
"Pengaruh Islam di Lampung lebih banyak diserap oleh masyarakat adat
Lampung Peminggir, sedangkan untuk masyarakat adat Pubian tempat
warahan bermula pengaruh itu agak kurang," tuturnya.

Menurut Riagus, warahan bermula dari kawasan Way Kanan di kawasan
Setegi. Mungkin saat ini masih ada pewarah-pewarah lama yang masih
tinggal di sana.

"Mungkin di pedalaman-pedalaman. Saya hendak menyusurinya, tetapi
yang jelas belum ada pengaruh dari Banten. Warahan sudah ada sejak
saat nenek moyang masyarakat Lampung masih berada di kawasan Kerinci
dan Pagarruyung, dan kemudian baru menyebar ke Way Kanan," tuturnya.

Hingga kini, warahan umumnya masih menggunakan bahasa Lampung Way
Kanan. Warahan itu kemudian juga berkembang ke arah Sungkai di Way
Kanan, Rantau Tijang-Pugung, Kabupaten Lampung Timur. Namun,
ironisnya, warahan justru berkembang dalam masyarakat Lampung Pubian
dibandingkan dengan Lampung Way Kanan.

Dalam pandangan Sutan Unjunan Paksi, mewarah sebagai alternatif
pengajaran kepada para muridnya yang pada siang hari telah diajarnya
pencak silat. Saat malam tiba dan pada murid itu beristirahat, Sutan
Unjunan Paksi mewarah.

Kisah yang menjadi kegemaran para muridnya adalah kisah peperangan
Radin Jambat. Selain menghibur, kisah itu memberi inspirasi bagi para
murid dalam berlatih pencak silat.

WARAHAN, menurut Imas, awalnya adalah bentuk imbalan dari orang tua
kepada anaknya. Agar anak tidak mengantuk saat memijat orang tua yang
kelelahan, orang tua mendongengkan sebuah kisah seperti Puteri Petani
yang Cerdik, Incang-Incang Anak Kemang, atau Si Bungsu Tujuh
Bersaudara, atau dongeng lainnya.

Hal itu dibenarkan juga oleh Riagus Ria. Bahkan untuk memperseru
kisah, si orang tua juga memperagakan apa yang tengah dikisahkannya.
Sesekali dalam dongeng itu dilantunkan juga puisi atau syair yang
sesuai dengan isi cerita.

Dalam kajiannya, Imas melihat warahan mengalami perubahan bentuk,
isi, dan fungsi. Awalnya adalah sastra tutur, untuk konsumsi
keluarga. Pewarah sengaja diundang ke rumah, umumnya pada sore hari.
Mereka diundang tanpa imbalan apa pun, dan dilakukan hingga beberapa hari.

Umumnya untuk masyarakat Lampung Pepadun yang diceritakan adalah
kisah Radin Jambat. Sementara, bagi masyarakat Lampung Pasisir kisah
yang disampaikan beragam dan sesekali diiringi oleh petikan gambus lunik.

Pada periode tahun 1940-an, ketika berbagai kelompok dan pertunjukan
sandiwara muncul atas prakarsa para pejuang, warahan masih tetap
menjadi konsumsi keluarga saja, dan belum muncul dalam pertunjukan
untuk umum. Selain karena jumlah pewarah yang terbatas, tak ada orang
Lampung yang memang sengaja mempelajari warahan sebagai profesi.

Dalam kajian Imas, ada pula pewarah yang berkeliling dari kampung ke
kampung untuk mewarah. Akan tetapi, kemudian menghilang, karena
desakan radio dan televisi. Pada tahun 1970-1980, warahan berkembang
menjadi teater tutur dan kemudian teater rakyat. Pada titik terakhir
perkembangannya warahan justru kehilangan bentuk aslinya, kehilangan
kemandiriannya.

Menurut Imas, pereduksian warahan menjadi teater rakyat terjadi pada
era tahun 1980-an, ketika pemerintah membutuhkan media untuk
menyosialisasikan program-program pembangunan. Pada masa itulah
warahan berkembang menjadi seni pertunjukan.

"Namun sayang, nilai esensial dari warahan yang terletak pada diri si
pewarah menjadi hilang. Bahkan, pewarah yang mestinya menjadi tokoh
utama justru terpinggirkan, dan hanya menjadi pemanis saja," ujarnya.

Seiring makin berkembangnya budaya baru dan masuknya arus teknologi
ke pedesaan, warahan mulai kehilangan pamor. Warahan yang berkembang
menjadi teater pertunjukan itu justru kehilangan rohnya.

Minat generasi muda untuk mempelajari bentuk warahan asli pun sangat
kecil, sedangkan para ahli warah pun sudah uzur. "Kami kehilangan
para ahli warah yang tahu betul struktur kisah itu, yang paham betul
dengan pakem-pakemnya, sehingga untuk mengembangkannya tidak bergeser
dari cerita dan bentuk aslinya," tutur Imas.

Saat ini kondisi sastra lisan itu jauh lebih parah dibandingkan
dengan nasib sastra lisan asli Lampung lainnya. Bahkan dibandingkan
dengan dadi, sastra lisan asli Lampung, kondisi warahan jauh lebih parah.

"Jika untuk dadi kami masih memiliki Ibu Masnuna. Tetapi, untuk
warahan tampaknya kami sudah sangat sulit menemukan kembali pewarah
yang hebat," ungkap Riagus.

Sumber: Kompas, Jumat, 11 Februari 2005

TEATER TUTUR

Upaya Mengelola Spirit Neo-Primitif
Sebuah Gagasan Teater Tutur

Oleh: S.Jai

MENYAKSIKAN tiap bentuk pertunjukkan, seringkali
kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan­apa pesan
yang dituturkan pertunjukan tadi? Lebih aneh lagi
apabila pertanyaan itu kerap muncul justru di
akhir pagelaran. Kalau mau jujur boleh dikata,
pertanyaan semacam itu tak lebih dari pengakuan
(disertai tuntutan) memperoleh kegunaan dari setiap menonton pertunjukkan.

Di sinilah kemudian pesan jadi barang mahal untuk
di dapat, apalagi bagi tontonan yang kurang
berhasil karena tidak adanya kesadaran yang
tinggi untuk menuju ke sana. Begitu mahalnya
sehingga makin sulit untuk menggerakkan
pesan-pesan seperti itu ke arah yang lebih dalam ke dalam bentuk kesan.

Menghadirkan pesan dan menghidupkan kesan
tampaknya hingga kini terus dijadikan pergulatan
dalam tradisi tutur kita­dan barangkali bermula
dari sini pulalah cikalbakal kesulitan akan
berkembangnya seni tradisi kita. Sehingga Tradisi
Tutur seperti jadi bulan-bulanan sebagai korban
yang menyebabkan seni tradisional berpotensi mati
yang sebenarbenarnya mati tanpa sebutir pun
bekas­kalaupun ada tak lebih hanya nostalgia yang
fatalnya cukup laris dijual di pasar pariwisata
bagi orang yang sebetulnya tengah kebingungan
mencari dirinya sendiri berada di tengah hirukpikuk zaman.

Lagi, sulit berkembangnya seni tradisi tutur kita
akibat serbuan model dan sarana penuturan lain
yang lebih efektif makin mengubur dalam dalam
nasib buruk tradisi tutur itu sendiri. Belakangan
yang muncul ke permukaan adalah pertanyaan
bagaimana memperjuangkan tradisi tutur yang
notabene telanjur memilih menggunakan media
bahasa lisan sebagai 'penyambung lidah' pesan tersebut?

Lantas apakah pesan dan kesan itu penting dan
tepat diwujudkan dengan kosakata sebagai barang
mahal? Memperjuangkan­bukan berarti membela
mati-matian­tradisi seni tutur kita boleh dikata
diawali dari berpegang pada pentingnya pesan dan
kesan tersebut sebagai kunci. Karena tradisi
tutur atau oral tradition sebetulnya lebih
bertitik tolak secara historis dari adanya pesan
tersebut yang dikemukakan dalam konteks tahap
kebudayaan mitologis menurut istilah Van Peursen.
Meski demikian tradisi tutur, oral tradition
alias tradisi lisan tak melulu berupa hal-hal
yang berkaitan dalam gaya penyampaian tutur
(verbal) belaka. Terlebih pada saat tradisi lisan
itu memasuki ranah seni yang pada mulanya tumbuh
subur sebagai sebuah upacara ternyata ada bentuk
tarian di samping syair serta wayang dan kemudian
menuju teater. Tentang yang terakhir disebut ini,
banyak dituding mulai adanya campur tangan pola
pikir barat ditandai sejak sandiwara (sandi dan
swara?) Dardanela, meski di sisi lain orang barat
macam Antonim Artaud justru menggali teater
tradisi di Bali. Kesemuanya terus hidup hingga di
zaman yang bukan lagi pre-historis tetapi pada saat orang mulai gemar menulis.

TEATER TUTUR adalah cerita itu sendiri adalah
dongeng, mithologi, monolog dari
colectif-conciusnes (kesadaran kolektif).
Pertanyaannya, bagaimana itu terjelaskan di atas
pentas? Sedyawati (1998) mengklasifikasikan
tradisi lisan sejak dari yang paling murni
bersifat sastra hingga ke pertunjukkan teater,
antara lain: pertama, murni pembacaan sastra,
seperti mebasan pada orang Bali dan macapatan
pada orang Jawa, kedua pembacaan sastra disertai
gerak-gerak sederhana atau iringan musik
terbatas, seperti pada Cekepung dan Kentrung,
ketiga, penyajian cerita disertai gerakan-gerakan
tari seperti randai pada orang Minang dan
keempat, penyajian cerita-cerita melalui
aktualisasi adegan-adegan dengan pemeran-pemeran
yang melakukan dialog dan menari disertai iringan musik.

Berawal dari catatan singkat bahwa tradisi tutur
tak musti dengan bahasa verbal, tampaknya bisa
lebih menajam bila memakai teropong pada
perbincangan dari tinjauan bahasa sebagai alat
penyampaian pesan (komunikasi). Bahasa kemudian
bisa berwujud sebagai bahasa dalam pengertian
teater, ada tari dan gesture (body language).
Dengan kata lain, di dalam masyarakat yang belum
mengenal tradisi menulis sebagai bagian dari
kebudayaannya, tradisi lisan menjadi alat atau
sarana yang sangat penting dalam transmisi nilai,
norma dan hukum dari generasi ke generasi yang
lain. "Mithos adalah sebuah cerita yang
memberikan pedoman dan arah tertentu pada
kelompok orang (pemiliknya) yang tidak hanya
dituturkan, tapi juga dapat diungkapkan lewat
tari-tarian atau pementasan wayang," kata Van
Peursen. Tak cuma itu, dalam perkembangan
selanjutnya atau tahap kebudayaan fungsional
bahasa terkait dengan alat penyampaian pesan
bukan mustahil bisa terus dicoba ke wilayah lebih
luas termasuk di dalamnya film­seperti pernah
dicoba sineas ternama Garin Nugroho ke dalam
bahasa gambar. Satu hal yang ditawarkan di situ
film minus bahasa verbal akan tetapi sukses tidak
meninggalkan nuansa tutur sebagai tradisi.

Pertanyaan berikutnya, lantas dimana teater atau
khususnya monolog bisa mengambil peran? Melalui
penelusuran epistemologis dan etimologi maupun
terminologi simpul pelbagai gagasan yang terkait
tutur atau lisan, teater dan monolog adalah pada
semangat untuk kembali menyampaikan pesan. Kalau
zaman baheula, mitologi hidup subur justru karena
keterbatasan-keterbatasannya, bagaimana sekarang
bisa memaknai kembali sebuah mitologi dan
sejenisnya­ada upacara ritual maupun mistik?
Terang saja yang tersebut belakangan ini sulit
untuk hidup kembali di ranah ini meski di
sejumlah wilayah dalam kontek tertentu masih
nyata-nyata begitu dipercaya kelompok masyarakat.

Kelompok masyarakat dalam catatan ini jadi
semacam syarat mutlak untuk bisa memahami
bahasa-bahasa mereka sendiri dalam sebuah
kesepakatan. Jadi makna hanya dapat dipahami dan
ditangkap masyarakat penciptanya sebagai konteks
sosial teater itu lahir dan kemudian hidup.
Seolah kelompok itu berkata 'Ini hanya untuk kami
sendiri, yang lain silakan tak perlu ikut-ikut.
Percuma saja.' Di sinilah kemudian pemahaman
kontektual teater jadi lebih memiliki arti yang
sulit untuk didekati kelompok lain di luarnya,
tetapi gampang menggugah semangat bagi mereka
yang 'senasib sepenanggungan.' Di situlah
tranformasi makna dan pesan dalam Teater Tutur
dari pelaku ke audiens (penonton) mengalir
melalui proses komunikasi baik verbal maupun
non-verbal pada saat sadar diri menjadi seni
pertunjukkan­bentuk komunikasi yang sudah
dikombinasikan dengan aspek visual, kinesthetic
dan aesthetic dari gerakan manusia. Dalam bahasa
lainnya seni yang seperti ini mustahil bisa
didekati secara universal, meskipun seni teater
itu sendiri bukan hal yang muskil kemunculannya
memang universal. Sehingga dari aspek
komunikatifnya, konsekuensi pilihan mutlak teater
seperti ini audiensinya harus memahami pesan
budaya yang dilakukan dengan gerakan manusia di
dalam waktu dan ruang. Terkait dengan hal ini,
makna teater tidaklah didapatkan dengan
sendirinya oleh masyarakat pendukungnya, akan
tetapi melalui suatu proses sosialisasi atau
proses kontinuitas dari generasi ke generasi
berikutnya. Meskipun konteks ruang, waktu dan
sosial (audience) yang berbeda akan memberikan
kontribusi bagi perubahan makna untuknya.
Tentu saja catatan ini dengan penuh kesadaran,
mengatakan teater yang dihidupkan petani,
peladang, buruh atau pengangguran cq mahasiswa
jurusan kesenian sekalipun, bisa diganti dengan
teater yang digagas seniman, intelektual dan
ilmuwan. Titik temunya pada apa yang digariskan
Bertolt Brecht bahwa antara ilmuwan dan seniman
itu memiliki tugas kemanusiaan yang sama yakni
meringankan beban hidup manusia. Bila ilmuwan
bertugas untuk menemukan jawaban
persoalan-persoalan dalam mengungkap misteri
keilmuan demi kesejahteraan hidup manusia di
semesta, maka kehadiran kesenian sebagai
penyeimbang karena keberadaannya dimaksudkan
untuk "menghibur." Bagi siapa yang bisa bertarung
di situ, kepada mereka kita sudah selayaknya dan
patut mengangkat topi karena sebetulnya mereka
bergulat memaknai diri di tengah samudera alam
semesta­sekecil apapun makna itu baginya­inilah
kreativitas. Perjuangan seperti ini pun telah
dilakukan manusia primitif sejak zaman baheula
untuk memecahkan kerumitan hidup sejak sebelum
ada religi, ritual atau agama dan pengetahuan
lain seperti seni dan moral. Dengan kata lain
proses budaya mereka adalah sesuatu yang
dihasilkan dari proses kreativitas yang
digerakkan oleh badan manusia di dalam ruang dan waktu tertentu.

ENTAH ini sebuah pandangan yang tepat ataukah
tidak, jadi masih semacam dugaan-dugaan yang
sifatnya perlu analisa dan eksperimen lebih
lanjut. Bahwa di samping problem yang sudah
melekat dalam diri manusia di semesta ini, lantas
perasaan senasib dan sepenanggungan dalam
perjalanan bangsa yang bertahun-tahun didera
akibat masa kelam, penderitaan, tekanan dan
kepahitan, secara tidak langsung juga turut
membentuk sebuah tradisi lisan dalam arti kita
lebih suka "diceritai" dari pada jadi "pencerita
yang analitis." Atau kita lebih terbiasa jadi
"pendengar" atau jadi "pendongeng" saja dengan
segala percikan-percikan yang dalam perkembangan
hebatnya bisa dipelihara sedemikian cerdik. Tanpa
bermaksud memposisikan "pendongeng" ke dalam
makna efimisme, jika pun benar betapa teater
tutur yang lahir dari "zaman gelap" seperti itu
sanggup berjuang dan mendapat tempat kuat di
tengah masyarakat. Sebaliknya tentu saja tak
memperoleh simpati jika ditinjau dari tahap
fungsionalnya Van Peursen. Kita tentu masih
dibuat terkagum-kagum bagaimana paiwainya Kartolo
Cs atau Markeso, Cak Durasim yang sanggup
memperjuangkan tradisi lisan justru di abad
supercanggih seperti sekarang­menyampaikan pesan
dengan rupa-rupa basa-basi verbal yang justru
menurut Sindhunata mampu menghidupkan spirit
hidup rakyat kecil dari hempasan penderitaan beban hidup.

Masih tentang dugaan, deraan nasib bangsa dalam
"zaman gelap" seperti ini dengan kata lain turut
menumbuhsuburkan monolog. Kita bisa menjumpainya
bagaimana banyak penulis kita yang begitu dahsyat
apabila menceritakan tentang penderitaan itu
sendiri, meski tanpa suatu analisa tertulis dari
disiplin keilmuan yang dalam. Yang mau saya
katakan, menjadi wajar apabila tradisi tutur itu
amat sulit dimusnahkan tanpa berniat untuk
mempertahankan secara mati-matian tradisi yang
dalam sejarahnya kini memang hidup enggan, mati
tak mau itu. Pertanyaan berikutnya, jika ini
benar adanya, akankah monolog itu sebuah ikatan
ideologis yang bukan kebetulan di sini dipicu
oleh perasaan senasib dalam sejarah? Kiranya ini
sebuah persoalan amat komplek seperti halnya
masalah manusia atau pelaku-pelaku budaya itu
sendiri dan keseriusan berproses budaya menjadi
titik tolak untuk menemukan jawabannya kendati
pun sulit untuk benar-benar terpecahkan. Tentu
saja hal ini termasuk di dalamnya problem budaya
dengan segala tetek bengek hambatan bahkan teror
kita sendiri yang jelas turut membangun
berdirinya imperium tradisi tutur­yakni sulitnya
memecahkan persoalan secara rasional sebagaimana
tradisi barat­atau seringkali kita dicap
berbelitbelit karena banyak bicara melalui
simbolisasi (surrealis?) basa-basi guyonan
parikeno dan tidak pragmatis. Saya tidak hendak
mengatakan simbolisasi itu buruk dan rasional itu
jelek atau sebaliknya rasional itu baik dan
simbolis itu bagus. Keduanya bisa ada dan
ditiadakan. Sama halnya dalam pertunjukkan teater
saya yang tanpa mempedulikan keharusan realisme,
absurditas atau simbolik, surrealisme. Kesemuanya
niscaya bisa ada dan bisa pula ditiadakan.
Kesemuanya punya hak untuk secara terbuka hadir
dalam sebuah proses panjang berteater.

TEMA BESAR pertunjukan ini adalah perlawanan
terhadap segala bentuk korupsi. Upaya ini sengaja
dimulai dengan mengurai peristiwa terdekat diri
kita yakni keluarga­menghadirkan tokoh yang
mengasingkan diri untuk menjaga kebersihan
hidupnya karena ia sadar mengemban misi mulia
dari sang pencipta dengan segala konsekuensinya
hidup dalam kemiskinan. Keluarga adalah titik
batas paling rumit, sekaligus pertarungan
menakjubkan antara kepentingan pribadi dan
masyarakat. Sulitnya perjuangan membebaskan
pikiran dan kenyataan bahwa apa yang dimakan
anggota keluarganya bukan hasil korupsi.
Pilihannya ternyata sekaligus jadi sebuah cara
agar bisa berbicara banyak tentang ancaman dunia
luar. Utamanya perihal kebobrokan. Cara tokoh
menutup pintu jelas sudah berbekal kunci bahwa
segala bentuk korupsi dan kebobrokan adalah
kejahatan dan bukan budaya. Pilihan tokoh seperti
itu didorong kesadaran dirinya "sungguh tak
mampu" mengikuti arus besar di luar rumah.
Melawan pun tak bisa. Karena itu satu-satunya
bentuk lain dari perlawanan adalah menjaga
keluarganya sendiri dari bahaya luar, menumbuhkan
sikap tak peduli, cuek dan apriori. Tema kecil
pertunjukan ini adalah tentang kemiskinan dan
penderitaan hidup orang biasa. Bahwa orang tak
perlu takut hidup miskin dan menderita. Justru
keberanian itu terletak pada kukuh mempertahankan
spirit hidup untuk tidak "merusak tatanan
kehidupan kosmos,"­sekecil apapun perbuatan yang disebut kejahatan.

Lelaki itu anak haram jadah. Lahir dari rahim
seorang pelacur, bukanlah penghalang baginya
untuk mencintai ibunya. Lelaki itu punya anak dan
istri. Punya keluarga membuatnya sadar, cinta
kepada ibunya telah menumbuhkan Spirit hidup
lelaki itu untuk jadi manusia­bertanggungjawab
pada diri, ilmu dan keluarganya­sebagaimana
ajaran ibunya. Demi tujuan itu, ia menjatuhkan
pilihan dengan keluar dari pekerjaan dan "menutup
pintu" rumahnya kuat-kuat. Ia memilih mengurus
sendiri hidup keluarganya dan menolak campur
tangan siapapun, tetangga maupun negara.
Mengapa dunia luar sebagai ancaman? Tanpa
sedikitpun bermaksud menganggap dunia luar itu
remeh temeh, kiranya ini adalah cara pandang yang
mempertimbangkan betul sisi dalam manusia itu
sendiri­pengalaman sejak kecil hingga tumbuh
dewasa. Dunia luar itu bukan satu-satunya
ancaman, karena sebaliknya pengalaman masa kecil
yang buruk bukan mustahil sanggup mendorong
manusia menjatuhkan pilihan pada "merusak tatanan
kehidupan kosmos"­inilah ancaman sesungguhnya
yang benar-benar ancaman. Bila karena itu
Nietzsche mengaku kesulitan memahami manusia dari
spesies hewan, karena dorongan kodrat manusia
sebagai makhluk yang selalu berkeinginan
berkuasa, tapi tidak bagi saya karena di situ ada
perbedaan mendasar antara "kodrat" dan
"fitrah"­bahwa manusia hidup dan hadir di bumi
ini sebagai wakil dari pencipta, menjadi pemimpin
bagi dirinya sendiri dan tidak untuk yang lain,
apalagi untuk terus menjadi korban.
Celakanya, semua itu ada dalam diri manusia dan
karena itu perjuangan untuk itu terus ditumbuhkan
termasuk kepada dirinya sendiri. Begitu
dahsyatnya pertarungan ini sampai kemudian
Nietzsche melalui tokohnya, Zarathustra melihat
kehendak berkuasa bekerja secara diam-diam di
mana saja dalam sejarah moral­dalam asketisme
orang-orang suci dan kecaman para tokoh moral,
serta brutalitas legislator primitif. Saya tidak
hendak menyalahkan Nietzsche, tapi seperti halnya
kata Al Ghazali begitu banyak pandangan-pandangan
filsuf yang tidak banyak berguna alias sia-sia
kurang lebih ada benarnya, termasuk salah satunya
kepada saudara Nietzche ini. Bagi saya, di
sinilah pentingnya mengajak (mendidik) siapapun
manusia untuk menjadi pemimpin bagi dirinya
sendiri sebagai sebuah jalan ke arah primitif
baru­proses kesenian sebagai buah tangan dan
pikiran manusia tak luput dari tugas itu. Memang
kedengarannya pilihan terminologi primitif baru
(neo-primitif) cukup arogan. Namun mengelola
sesuatu arogansi itu menurut saya adalah suatu
kesenian, tentu saja dengan mempertimbangkan
secara matang seluruh bentuk dan isi pikiran.
Syukurlah Erich Fromm dalam The Anatomy of Human
Destructiveness, cukup lumayan ketika menyesalkan
terjadinya kesalahan berpikir bahwa orang yang
sungguh jahat dan destruktif pastilah
setan­berwajah jahat, punya taring, tidak punya
kualitas positif, dan sebagainya. Koreksi Erich
Fromm, setan-setan ini memang ada, tapi
celakanya, sangat jarang berpenampilan demikian.
Yang lebih banyak justru setan yang
memperlihatkan wajah manis dan menarik. Maka,
sejauh percaya orang jahat pasti bengis dan
bertaring atau bertanduk, tidak pernah akan menjumpai orang jahat di dunia.
Cukup menarik bagi saya adalah pernyataan Carl
Gustav Jung, yang mengungkapkan bahwa setiap
benda padat memiliki sisi-bayangnya sendiri.
Bagian bayang dari pikiran adalah bagian esensial
dari bentuknya. Mengingkari bayangannya sendiri
berarti kehilangan kepadatan, menjadi semacam
hantu. Dari sinilah kemudian, ia berpendapat
pengakuan atas sisi gelap manusia ini sangat
penting kalau kita ingin mencapai kepenuhan
integritas diri dan bertindak secara lebih
realitis. Hal ini saya lebih cenderung
menggunakan terminologi sikap terbuka dan
membocorkan diri atas bahwa manusia memang
memiliki sisi gelapnya sendiri, yakni kemampuan
untuk melakukan kejahatan yang justru merendahkan
dirinya sendiri. Ada pandangan yang "spiritualis"
atau "mistis" mengemuka dari pernyataan Jung,
bahwa manusia memiliki kekuatan kompleks yang
memungkinkannya untuk melakukan tindakan yang
meniadakan kebaikannya sendiri. Dengan
membocorkan diri tentang ruang-ruang gelap,
dosa-dosa, kejahatan-kejahatan,
keburukan-keburukan masa lalu dalam batin
manusia, maka hal itu berarti aktif menciptakan
kondisi ektrem manusia tanpa lebih dulu harus
ditekan dan pojokkan. Karena menurut saya, dengan
cara seperti ini saya amat meyakini sebagai upaya
untuk mengenali diri secara lebih dahsyat yang
pada gilirannya barangkali justru akan
menumbuhkan rasa percaya diri sebagai manusia menjalani fitrahnya.

MENJAJAGI kemungkinan bentuk teater dan wayang
kampung sebagaimana selama ini saya terlibat di
dalamnya dengan menyadari pelbagai kendala
kemiskinan­fasilitas, dana, pekerja teater dan
lainnya­jelas bukanlah penghalang utama sebuah
kerja kreativitas. Saya menghadirkan
elemen-elemen jagad perwayangan sejak dari
dalang, lampu blencong, layar dan sebagainya
meski tanpa sepotong pun sosok wayang. Kemewahan
sosok wayang hanyalah perkara tokoh dan
penokohan. Saya cukup mengganti tokoh wayang
dengan kostum-kostum yang dipajang di depan
layar. Sehingga di situ pulalah pemain bisa
keluar masuk dengan ide-idenya atau "penokohan
jiwanya" dalam kostum yang untuk itupun ia harus
sering berganti di atas panggung. Pemain bisa
jadi cuma pemain dan bisa pula jadi dalang
sekaligus bagi dirinya sendiri. Pemainlah yang
punya beban ide atau ideologi, bukan yang lain.
Wujud wayang hanyalah soal baju saja. Selanjutnya
tergantung bagaimana "mengisinya." Bukankah kita
sudah biasa dengan berganti baju lalu tiba-tiba
sikap hidup kita jadi sering pula berganti? Dasar
Teater Tutur bukan berarti menilai disiplin
teater barat sesuatu yang abai. Mempertimbangkan
Eugine Ionesco yang biasa menampilkan lelucon dan
simbolik, atau Bertolt Brecht yang cenderung
berpikir, lalu Grotowsky yang berusaha
mempengaruhi penonton bahkan teater Rusia
Okhlopkov yang sangat sosialis juga perlu. Jadi
jangan heran bila pertunjukan ini mengajak
menciptakan kegembiraan atau semacam pesta dengan
penonton gilirannya sebagai pemain. Semuanya
tidak mustahil ada di pertunjukan ini dengan
penuh kesadaran menghadirkannya­ini sebuah cara
untuk kemungkinan kami bisa lebih bersikap terbuka.
Untuk itu, sebelum menutup tulisan ini, sebagai
sebuah gagasan teater, saya amat yakin berdiri di
suatu "koma" dan jauh dari sebuah "titik." Karena
itu, alangkah baiknya kalau di tempat pencarian
ini, sekaligus mengurai kerendahan hati dan
mengurangi beban arogansi, saya kembali
mengajukan pertanyaan penting, mungkinkah sebuah
pertunjukkan mencoba menggali kemungkinan baru
tentang monolog dalam teater? Lalu, akankah dalam
situasi di tengah hiruk pikuk zaman ketika dari
hari ke hari, jam, menit dan detik makin banyak
pula orang dan barang yang sibuk bermonolog,
lantas menawarkan bentuk lain monolog sebagai
sebuah ideologi dalam arti point of view (sudut
pandang)? Lantas efektifkah bila "menyebarkan"
sudut pandang aku yang bukan mustahil tak ada
bedanya jika diganti sudut pandang kami asalkan
keduanya sama-sama mempertahankan sikap sepihak?
Sebagai penutup saya hanya bisa menukil satu
jawaban sementara yang kami yakini dengan apa
yang kami lakukan, bahwa sudut pandang kami
melalui teknik tertentu dalam pertunjukkan ini
sanggup menekankan pentingnya menyebarkan
informasi kemungkinan bisa diterapkannya asas
pembuktian terbalik di dunia hukum kita untuk memerangi korupsi.

Kutisari, 7 Desember 2004

SAHIBUL HIKAYAT

Orang betawi biasa merefleksikan kepedihan hidupnya lewat humor. Tak
heran bila humor kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
Betawi. Sulit membayangkan orang betawi hidup seperti filosof Yunani
socrates, berwajah angker dengan dahi mengkerut dalam posisi menopang
dagunya. Orang Betawi sulit memisahkan humor dari kehidupannya.
Refleksi dari rasa humor itu terlihat dalam lakon lenong dan topeng betawi.

Masih banyak lagi seni dan budaya Betawi yang sarat dengan humor.
Salah satunya adalah Sahibul Hikayat alias pendongeng. Budaya betawi
tempo doloe ini lahir dari pengaruh Persi dan timur Tengah. Istilah
Sahibul Hikayat berasal dari Bahasa Arab yang artinya "yang empunya
cerita". Kesenian ini merupakn sejenis sastra lisan atau teater tutur
yang dibawakan oleh tukang cerita.

Cerita yang dibawakan disampaikan dalam bentuk prosa bahkan dengan
beberapa bait pantun disana-sini. Kisah-kisahnya yang biasa dibawakan
yaitu Seribu Satu Malam, Nurul Laila, dan Alfu Lail Wal Lail.

Daerah penyebarannya di Jakarta Pusat (salemba, Tanah Abang, Kebon
Sirih dan Kemayoran). Pembawa cerita biasa disebut tukang cerita atau
juru cerita atau hikayat. Juru hikayat yang terkenal pada masa lalu
antara lain Haji Ja'far, haji Ma'ruf, Moh. Zahid yang dikenal sebagai
sebutan Wak jait. Tema Pokoknya yaitu peperangan antara kejahatan dan
kebaikan dan selalu dimenangkan dengan kebaikan.

Saat ini keberadaan para tukang cerita dan pementasan sahibul hikayat
terbilang cukup jarang bahkan sudah sangat sulit ditemui karena
generasi sekarang terbilang sudah tidak menyukai kesenian khas ini,
karena mungkin sudah terbilang kuno. Padahal, kesenian daerah sendiri
merupakan warisan yang sangat berharga untuk dilestarikan.