Rabu, 04 November 2009

MENDONGENG ITU MUDAH

Pikiran Rakyat , Minggu, 24 Juli 2005

Mendongeng itu Mudah!
Soni Farid Maulana

Memilih bacaan untuk anak di tengah-tengah lautan
buku bacaan yang dewasa ini demikian melimpah
ruah, tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Apalagi bila dihadapkan dengan buku-buku bacaan
hasil terjemahan, entah itu berupa komik, cerita pendek, atau novel.

Dalam upaya menumbuhkembangkan daya intelektual
anak lewat bacaan, orang tua mempunyai peran yang
cukup penting. Orang tua harus menjadi pembaca
pertama buku-buku yang kelak akan dibaca anak.

Dalam memilih bacaan ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan. Pertama, lihat bahasa yang
dipakainya, apakah mudah dicerna atau tidak oleh
si anak. Setelah itu lihat jalan ceritanya,
konflik yang dihidupkannya, latar ceritanya, dan
sebagainya. Pasalnya, dewasa ini hal-hal yang
bersifat pornografis sudah merasuk ke dalam
komik, novel, bahkan cerita pendek. Jangan sampai
hal yang belum pantas dibaca anak, malah menjadi
santapannya. Hal itu bisa membuat anak lupa pada
tugas utamanya, yakni belajar menghayati hidup
dan kehidupan secara mandiri, arif dan bijaksana.

Kekerasan juga telah banyak mewarnai buku-buku
yang katanya diperuntukkan bagi anak-anak. Kalau
teliti, mungkin kita akan bertanya-tanya benarkah
komik Batman itu diperuntukkan bagi anak-anak ?
Jika untuk anak-anak, haruskah di usia dini
anak-anak diperkenalkan kepada carut-marutnya
dunia yang babak-belur oleh persoalan kriminal
Demikian pula ketika memilih bacaan semisal
Sin-chan yang nakal itu. Adakah bacaan semacam
ini cocok pula disajikan untuk anak-anak kita
yang secara kultural berbeda jauh dengan kehidupan orang Jepang?

Bahkan ketika kita membelikan VCD "Tom & Jerry"
misalnya, harus hati-hati pula. Di dalam VCD
tersebut juga banyak terjadi tindak kekerasan, yang bisa ditiru anak.

Ada baiknya orang tua bertindak arif dan
bijaksana. Antara lain membelikan anak sejumlah
buku bacaan yang sarat dengan muatan lokal.
Dongeng-dongeng yang pernah dilisankan oleh orang
tua kita menjelang tidur, saat ini sudah banyak
yang dibukukan. Entah itu berupa cerita rakyat
dari Jawa Barat, seperti Dalem Boncel, atau
cerita fabel seperti Si Kancil, dan sebagainya.

Bacaan-bacaan yang sarat dengan pesan keagamaan,
juga bisa dijadikan pilihan di luar cerita-cerita
yang sepenuhnya hanya berpihak pada persoalan sosial atau kemanusiaan.

UNTUK menumbuhkan imajinasi di kepala anak, orang
tua atau guru perlu memiliki teknik mendongeng
yang baik. "Tapi jangan mundur karena kurang
menguasai teknik. Pede aja lagi. Mendongeng itu
mudah, cobalah apa adanya," ujar Andi Yudha.

Syarat utamanya adalah percaya diri dan
komunikatif. Banyak orang tua tidak percaya diri
ketika mendongeng, akhirnya pesan dongengnya
sulit ditangkap anak. Anak jadi boring, sementara
orang tua sendiri terlanjur hopelles untuk meneruskan mendongeng.

"Mendongeng bisa dimulai dengan mengaktifkan
indra yang kita miliki untuk membantu
memvisualisasikan cerita. Kemudian untuk menggali
cerita bisa mengungkap kejadian sehari-hari,
masalah biasa kita temui bukan? Dan untuk
memotivasi diri, tanamkan keyakinan bahwa setiap
orang biasa menyampaikan segala sesuatu yang ada
dipikirannya," ujar ayah 3 anak yang juga trainer
mendongeng ini.

Sebagai panduan, Andi memberikan kiat-kiat mendongeng sebagai berikut:

•Pilihlah cerita yang sesuai dengan kesehariannya
dan minat anak. Jelaskan tokoh, tempat dan
kata-kata yang belum dimengerti anak. Dengan
demikian anak tidak bertanya terus dan dapat berkonsentrasi kepada cerita.
•Bacakan cerita dengan antusias dan akting yang
meyakinkan. Sertakan emosi, maka anak juga akan
menghayati dan mengikutinya dengan emosi pula.
•Bedakan mimik, ucapan maupun tokoh yang ada
dengan mengidentikkan diri kita pada tokoh
tersebut, atau boneka yang dibayangkan sebagai
tokoh utama. Beri ekspresi pada apa yang Anda
ceritakan. Tapi jangan dilebih-lebihkan.
Variasikan kecepatan, irama suara sesuai
kebutuhan teks. Misalnya untuk membangun ketegangan-ketegangan.
•Variasikan nada suara pada pelbagai karakter.
Hal ini akan lebih mendramatisir dialog dan
menghidupkan karakter yang ada. Lakukan secara
wajar karena jika berlebihan, yang diingat anak
justru suara Anda dan bukan ceritanya.
•Jagalah kontak mata Anda dengan anak saat
bercerita. Dekatkan tubuh Anda dengan si kecil ketika membaca.
•Buatlah sinyal ketika cerita itu akan atau telah berakhir.
•Ajukan pertanyaan pada anak untuk mengetahui
apakah cerita yang kita sampaikan benar-benar
diperhatikan. Doronglah anak untuk bertanya dan
mengomentari cerita tersebut dan tanyakan kembali
isi cerita tersebut kepada anak. Evaluasi terus
cara kita mendongeng, bisa juga didiskusikan dengan anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar