Rabu, 04 November 2009

SAHIBUL HIKAYAT

Orang betawi biasa merefleksikan kepedihan hidupnya lewat humor. Tak
heran bila humor kemudian menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
Betawi. Sulit membayangkan orang betawi hidup seperti filosof Yunani
socrates, berwajah angker dengan dahi mengkerut dalam posisi menopang
dagunya. Orang Betawi sulit memisahkan humor dari kehidupannya.
Refleksi dari rasa humor itu terlihat dalam lakon lenong dan topeng betawi.

Masih banyak lagi seni dan budaya Betawi yang sarat dengan humor.
Salah satunya adalah Sahibul Hikayat alias pendongeng. Budaya betawi
tempo doloe ini lahir dari pengaruh Persi dan timur Tengah. Istilah
Sahibul Hikayat berasal dari Bahasa Arab yang artinya "yang empunya
cerita". Kesenian ini merupakn sejenis sastra lisan atau teater tutur
yang dibawakan oleh tukang cerita.

Cerita yang dibawakan disampaikan dalam bentuk prosa bahkan dengan
beberapa bait pantun disana-sini. Kisah-kisahnya yang biasa dibawakan
yaitu Seribu Satu Malam, Nurul Laila, dan Alfu Lail Wal Lail.

Daerah penyebarannya di Jakarta Pusat (salemba, Tanah Abang, Kebon
Sirih dan Kemayoran). Pembawa cerita biasa disebut tukang cerita atau
juru cerita atau hikayat. Juru hikayat yang terkenal pada masa lalu
antara lain Haji Ja'far, haji Ma'ruf, Moh. Zahid yang dikenal sebagai
sebutan Wak jait. Tema Pokoknya yaitu peperangan antara kejahatan dan
kebaikan dan selalu dimenangkan dengan kebaikan.

Saat ini keberadaan para tukang cerita dan pementasan sahibul hikayat
terbilang cukup jarang bahkan sudah sangat sulit ditemui karena
generasi sekarang terbilang sudah tidak menyukai kesenian khas ini,
karena mungkin sudah terbilang kuno. Padahal, kesenian daerah sendiri
merupakan warisan yang sangat berharga untuk dilestarikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar