Rabu, 04 November 2009

“WARAHAN” SASTRA TUTUR LAMPUNG YANG TERANCAM

Oleh : B Josie Susilo Hardianto

"JIKA dilakukan pada siang hari, hujan rintik-rintik akan turun walau
matahari bersinar dengan terik. Kami menyebutnya hujan panas. Lalu,
jika dilakukan pada malam hari, hujan akan turun. Itulah tandanya,"
tutur Riagus Ria, pemerhati seni tradisional Lampung, tentang
pengaruh magis yang muncul saat seorang pewarah (penutur warahan)
memaparkan kisahnya.

MAGIS, karena untuk mampu mengisahkan cerita yang terdiri atas
puluhan bait itu, seorang pewarah harus melakukan puasa mati raga.

"Melakukan puasa selama 40 hari. Setelah itu masih disambung lagi
dengan puasa empat hari, dan masih dilanjutkan lagi dengan puasa dua
hari dua malam tanpa makan dan minum. Tidak heran jika para pewarah
dulu mampu menghafal kisah Radin Jambat dan mewarahkannya," tutur
Riagus Ria lagi.

Ia sendiri mengalaminya, ketika Syahmin Ahyar Gelar Sutan Unjunan
Paksi, ayahnya, mengisahkan Hikayat Radin Jambat. Kisah itu
menceritakan tentang petualangan Radin Jambat, legenda tua rakyat
Lampung. Dalam tradisi sastra lisan Lampung, kisah Radin Jambat ini
merupakan kisah utama, sebuah masterpiece (adikarya).

Hikayat Radin Jambat berisi tentang kisah-kisah petualangan yang
diwarnai cerita peperangan, percintaan, dan juga humor. "Yang menarik
bagi anak-anak kala itu adalah peperangan saat Radin Jambat terdesak.
Begitu hebatnya pewarah itu bercerita, semua seperti terpukau,
terbelalak mendengar bahwa dengan pedangnya Radin Jambat menebas
pepohonan, sehingga menyebabkan burung garuda mengeluh karena tak ada
lagi tempat untuk hinggap," ungkap Riagus.

Kisah itu awalnya adalah petualangan Radin Jambat dalam mencari
jodoh. Namun, bagi Imas Komariah, seorang seniman dan pemerhati seni
di Lampung, kisah pencarian cinta Radin merupakan sebuah kisah
reflektif dan pergulatan batin manusia dalam mencari keilahian. "Itu
adalah kisah tentang manusia yang hendak bertemu dengan Yang Ilahi.
Disebutkan dalam kisah itu tentang dewa-dewa," tuturnya.

Bagi anak-anak masa itu, menurut Riagus Ria, kisah lama begitu
menarik perhatian, apalagi jika si pewarah mempunyai kekuatan magis
yang seolah menyihir lewat lantunan kisah-kisah yang dipaparkan.
Warahan yang dalam khazanah sastra dapat dikategorikan sebagai
dongeng ini, memang dipaparkan dengan cara dilagukan.

"Dulu, pada malam hari, saat hendak tidur, bapak saya selalu mewarah.
Kami, anak-anak ada di sekelilingnya sambil memijatnya. Kisah itu
berhenti setelah bapak tertidur, dan kami pun juga tertidur. Kami
meyakini itu juga akibat pengaruh magis pengisahan. Lalu esok
malamnya diteruskan lagi. Sebelumnya bapak bertanya, kisah kemarin
sampai apa, lalu diteruskan lagi. Kisah Radin Jambat sendiri biasanya
selesai dikisahkan setelah empat hari empat malam," tutur Riagus.

Tak heran sebab setelah dituliskan kembali oleh Prof Hilman
Hadikusuma, seorang ahli hukum adat Lampung, kisah Hikayat Radin
Jambat terdiri atas 42 bait. "Hanya sayang bait ke 21 sedikit
terpenggal," ungkap Riagus.

Selain Hikayat Radin Jambat, ada juga kisah lain seperti Betung
Sengawan yang berkisah tentang penobatan gelar. Lalu ada juga kisah
yang berbau fiktif, berbaur dengan kisah-kisah nonfiksi yang muncul
dalam warahan bertema sejarah, seperti cerita tentang asal-usul
Lampung yang berjudul Ompung Silamponga.

KATA warahan sendiri berasal dari kata wakhea yang dalam bahasa
Lampung berarti cerita, dan akhah yang berarti maksud. Imas Komariah
mengkaji, istilah warahan memiliki beberapa versi, yaitu wawarahan,
warahan, dan aruhan atau ruhan. Wawarahan, menurut dia, lazim
digunakan oleh masyarakat Lampung Pesisir (Sai Batin), sedangkan
masyarakat Lampung Pepadun biasa menggunakan istilah warahan atau
ruhan atau aruhan.

Kisah tutur itu biasanya disampaikan dengan cara dilantunkan dalam
bahasa Lampung. Berbeda dari sastra lisan Lampung lainnya seperti
dadi, pisaan, canggot, bubiti, dan sagata, pesan yang hendak
disampaikan dalam warahan dikemas dalam cerita yang memiliki plot
dengan tahapan-tahapan yang jelas.

Imas menyebutkan, berbeda dari sastra lisan yang umumnya ditampilkan
dalam upacara adat saja. "Warahan dapat ditampilkan dalam setiap
kesempatan, karena memang awalnya adalah dongeng dari orang tua
kepada anak atau cucunya. Lingkupnya lebih terbuka dibandingkan
dengan bentuk sastra lisan lain yang lebih terikat pada peristiwa
atau perhelatan adat saja," paparnya.

Dikatakan, dalam kajian sejarah, ada kemungkinan warahan berkembang
seiring dengan masuknya pengaruh Kesultanan Banten dan Islam di
Lampung, terutama untuk masyarakat adat pesisir. Tetapi, menurut
Riagus, warahan sudah mulai berkembang sebelum Banten datang.

Bahkan, menurut Riagus, warahan telah berkembang dalam komunitas
masyarakat Lampung jauh sebelum masuknya pengaruh Islam di Lampung.
"Pengaruh Islam di Lampung lebih banyak diserap oleh masyarakat adat
Lampung Peminggir, sedangkan untuk masyarakat adat Pubian tempat
warahan bermula pengaruh itu agak kurang," tuturnya.

Menurut Riagus, warahan bermula dari kawasan Way Kanan di kawasan
Setegi. Mungkin saat ini masih ada pewarah-pewarah lama yang masih
tinggal di sana.

"Mungkin di pedalaman-pedalaman. Saya hendak menyusurinya, tetapi
yang jelas belum ada pengaruh dari Banten. Warahan sudah ada sejak
saat nenek moyang masyarakat Lampung masih berada di kawasan Kerinci
dan Pagarruyung, dan kemudian baru menyebar ke Way Kanan," tuturnya.

Hingga kini, warahan umumnya masih menggunakan bahasa Lampung Way
Kanan. Warahan itu kemudian juga berkembang ke arah Sungkai di Way
Kanan, Rantau Tijang-Pugung, Kabupaten Lampung Timur. Namun,
ironisnya, warahan justru berkembang dalam masyarakat Lampung Pubian
dibandingkan dengan Lampung Way Kanan.

Dalam pandangan Sutan Unjunan Paksi, mewarah sebagai alternatif
pengajaran kepada para muridnya yang pada siang hari telah diajarnya
pencak silat. Saat malam tiba dan pada murid itu beristirahat, Sutan
Unjunan Paksi mewarah.

Kisah yang menjadi kegemaran para muridnya adalah kisah peperangan
Radin Jambat. Selain menghibur, kisah itu memberi inspirasi bagi para
murid dalam berlatih pencak silat.

WARAHAN, menurut Imas, awalnya adalah bentuk imbalan dari orang tua
kepada anaknya. Agar anak tidak mengantuk saat memijat orang tua yang
kelelahan, orang tua mendongengkan sebuah kisah seperti Puteri Petani
yang Cerdik, Incang-Incang Anak Kemang, atau Si Bungsu Tujuh
Bersaudara, atau dongeng lainnya.

Hal itu dibenarkan juga oleh Riagus Ria. Bahkan untuk memperseru
kisah, si orang tua juga memperagakan apa yang tengah dikisahkannya.
Sesekali dalam dongeng itu dilantunkan juga puisi atau syair yang
sesuai dengan isi cerita.

Dalam kajiannya, Imas melihat warahan mengalami perubahan bentuk,
isi, dan fungsi. Awalnya adalah sastra tutur, untuk konsumsi
keluarga. Pewarah sengaja diundang ke rumah, umumnya pada sore hari.
Mereka diundang tanpa imbalan apa pun, dan dilakukan hingga beberapa hari.

Umumnya untuk masyarakat Lampung Pepadun yang diceritakan adalah
kisah Radin Jambat. Sementara, bagi masyarakat Lampung Pasisir kisah
yang disampaikan beragam dan sesekali diiringi oleh petikan gambus lunik.

Pada periode tahun 1940-an, ketika berbagai kelompok dan pertunjukan
sandiwara muncul atas prakarsa para pejuang, warahan masih tetap
menjadi konsumsi keluarga saja, dan belum muncul dalam pertunjukan
untuk umum. Selain karena jumlah pewarah yang terbatas, tak ada orang
Lampung yang memang sengaja mempelajari warahan sebagai profesi.

Dalam kajian Imas, ada pula pewarah yang berkeliling dari kampung ke
kampung untuk mewarah. Akan tetapi, kemudian menghilang, karena
desakan radio dan televisi. Pada tahun 1970-1980, warahan berkembang
menjadi teater tutur dan kemudian teater rakyat. Pada titik terakhir
perkembangannya warahan justru kehilangan bentuk aslinya, kehilangan
kemandiriannya.

Menurut Imas, pereduksian warahan menjadi teater rakyat terjadi pada
era tahun 1980-an, ketika pemerintah membutuhkan media untuk
menyosialisasikan program-program pembangunan. Pada masa itulah
warahan berkembang menjadi seni pertunjukan.

"Namun sayang, nilai esensial dari warahan yang terletak pada diri si
pewarah menjadi hilang. Bahkan, pewarah yang mestinya menjadi tokoh
utama justru terpinggirkan, dan hanya menjadi pemanis saja," ujarnya.

Seiring makin berkembangnya budaya baru dan masuknya arus teknologi
ke pedesaan, warahan mulai kehilangan pamor. Warahan yang berkembang
menjadi teater pertunjukan itu justru kehilangan rohnya.

Minat generasi muda untuk mempelajari bentuk warahan asli pun sangat
kecil, sedangkan para ahli warah pun sudah uzur. "Kami kehilangan
para ahli warah yang tahu betul struktur kisah itu, yang paham betul
dengan pakem-pakemnya, sehingga untuk mengembangkannya tidak bergeser
dari cerita dan bentuk aslinya," tutur Imas.

Saat ini kondisi sastra lisan itu jauh lebih parah dibandingkan
dengan nasib sastra lisan asli Lampung lainnya. Bahkan dibandingkan
dengan dadi, sastra lisan asli Lampung, kondisi warahan jauh lebih parah.

"Jika untuk dadi kami masih memiliki Ibu Masnuna. Tetapi, untuk
warahan tampaknya kami sudah sangat sulit menemukan kembali pewarah
yang hebat," ungkap Riagus.

Sumber: Kompas, Jumat, 11 Februari 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar